Thursday, May 30, 2013

Cinta Itu Fitrah dan Anugerah

Cinta Itu Fitrah dan Anugerah - Kita sebagai manusia biasa yang memiliki cinta. Tiada yang salah karena cinta Anugerah. Justru cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai kehidupan dan menertibkan harapan. Tiada masalah ada cinta pada manusia dan tiada pernah pula Allah karuniakan selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar dua insan dapat bersama dalam satu bahtera asa.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Al-Rûm [30]: 21)

Allah yang menjadikan rasa cinta antara jenis yang berlawanan, sama seperti Allah jadikan rasa cinta manusia terhadap apa pun yang diinginkan di dunia.

QS Âli `Imrân [3]: 14
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Âli `Imrân [3]: 14)

Lebih tinggi lagi dari itu, Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayang sebagai tanda bagi orang yang beriman.

QS Maryam [19]: 96
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelah Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. (QS Maryam [19]: 96)

Cinta bagi manusia adalah bagian dari fitrah, bagian dari naluri, yakni al-gharâ'iz. Al-gharâ'iz adalah naluri-naluri yang tidak dapat diindra mata, namun terdapat pada manusia dan menuntut pemenuhan. Al-gharâ'iz bisa jadi naluri untuk mempertahankan eksistensi dan berorientasi pada diri sendiri (gharîzah baqâ'), seperti rasa ingin dihargai, takut bila merasa terancam, dan lainnya.

Bisa pula naluri untuk melanjutkan keturunan (gharîzah nau'), seperti rasa sayang terhadap orangtua dan anak, saudara, ataupun lawan jenis. Bisa pula mewujudkan dalam naluri untuk menyucikan sesuatu (gharîzah tadayyun), seperti rasa takjub saat melihat sesuatu yang agung ataupun naluri beragama itu sendiri.

Cinta itu bebas dan netral

CINTA, sebagaimana yang telah dibahas di atas, yakni (gharîzah nau'), dan sebagaimana naluri-naluri yang lain, ia menuntut pemenuhan. Maka wajar saat seseorang sudah balig, ia mulai merasakan naluri ini. Bukan sebagai tanda yang salah, namun sebagai indikasi bahwasanya ia sudah siap melanjutkan keturunan manusia.

Bila cinta adalah karunia Allah SWT., mustahil Allah mengaruniakan sesuatu yang buruk. CINTA bisa dimaknai sebagai potensi taat.

Makna cinta itu luas, maka jangan disempitkan dengan syahwat, kasih sayang itu terlalu tinggi untuk direndahkan hanya dengan baku maksiat. Islam adalah agama yang mengajarkan cinta kasih. Cinta dari seorang suami kepada istrinya dan sebaliknya, dari ayah-bunda ke anak dan sebaliknya, sesama saudara, sesama manusia, dan seterusnya.

Islam tidak pernah mengharamkan cinta, Islam mengarahkan cinta agar ia berjalan pada koridor yang semestinya. Islam mengatur bagaimana menunaikan cinta kepada orangtua, cinta kepada saudara seiman, kepada sesama manusia, juga tentunya cinta kepada lawan jenis. Bila kita bicara cinta kepada lawan jenis, satu-satunya cara jalan adalah PERNIKAHAN yang dengan semuanya cinta jadi halal dan penuh keberkahan.

SEBALIKNYA ..
Islam melarang keras segala bentuk interaksi cinta yang tidak halal. Bukan karena apa pun, tapi karena Islam adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada manusia itu sendiri. Cinta yang tak semestinya merupakan cinta yang tidak halal. Itulah jenis cinta yang merusak.

Sialnya, kaum Muslimin kini hidup dalam kungkungan masyarakat yang sebagian besar salah kaprah memahami cinta. Kita hidup dalam masyarakat yang mendewakan kepuasan badani lewat eksploitasi seksual yang mereka kira sebagai cinta.

Tidak dikenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semua sudah berganti dengan pergaulan bebas. Ada yang menyebutnya pacaran, teman tapi mesra (TTM), dibalut dalam alasan kakak-adik, teman dekat, ataupun yang lainnya.

Apapun namanya, mereka berusaha memuaskan rasa senang kepada lawan jenis dengan cara-cara yang mereka kira Allah tiada menghisabnya.

Sayangnya, semua alasan yang dikemukakan, kelak tiada akan bisa terucap. Karena di hadapan Allah akan bersaksi seluruh bagian tubuh, walau lisan kita mengemukakan alasan dan pembenaran.

Sedari dini, mari mendidik cinta agar ia bersemi dalam ketaatan, bukan direndahkan oleh maksiat. Ajarkan pada cinta agar ia membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yang ditanggung karena terbuai perbuatan terlaknat. Semoga bermanfaat. Cinta Itu Fitrah dan Anugerah

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Cinta Itu Fitrah dan Anugerah

0 komentar:

Post a Comment

Bismillaah ..
Anda boleh meninggalkan komentar di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

Terima Kasih.