Tuesday, September 27, 2016

Sejarah Dakwah Islam: Substansi dan Strategi Dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah

Sejarah Dakwah Islam: Substansi dan Strategi Dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah - Substansi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah antara lain sebagai berikut.

  1. Memperbaiki akhlak masyarakat Mekah yang mengalami dekadensi moral, seperti tumbuh suburnya kebiasaan berjudi, minuman khamar, dan berzina. 
  2. Memperbaiki dan meluruskan cara menyembah Tuhan karena agama berhala menyembah patung-patung. Rasulullah saw. mengajak mereka untuk beralih pada Islam yang hanya menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa serta menjauhi sikap musyrik. 
  3. Menegakkan ajaran Islam tentang persamaan hak dan derajat di antara manusia. 
  4. Mengubah kebiasaan bertaklid kepada nenek moyang dan meluruskan segala adat-istiadat, kepercayaan, dan upacara-upacara keagamaan.
Nabi Muhammad saw. berdakwah dengan sabar, ikhlas, dan tegas. Beliau berdakwah tanpa memaksakan kehendak dan berlaku lemah lembut. Dalam melakukan dakwahnya, beliau menggunakan strategi sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan jahriyyah (terang-terangan).

Sejarah Dakwah Islam: Substansi dan Strategi Dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah


Dakwah secara Sembunyi-Sembunyi

Sebagaimana dijelaskan di atas, turunnya wahyu (Q.S. al-Muddassir/74: 1-7) tersebut sebagai pengangkatan Nabi Muhammad saw. menjadi seorang rasul.

Pada awalnya, Nabi Muhammad saw. melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Hal itu untuk mengantisipasi guncangan di masyarakat. Beliau mengetahui bahwa orang Quraisy sangat terikat, fanatik, dan kuat mempertahankan kepercayaan jahiliah. Dakwah dengan sembunyi-sembunyi berlangsung selama kurang lebih 3 tahun.

Empat tahun pertama merupakan masa Nabi Muhammad saw. mempersiapkan diri, menghimpun kekuatan, dan mencari pengikut setia. Seiring dengan waktu, wahyu yang turun pada masa itu secara umum bersifat mendidik, membimbing, membina, mengarahkan, dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan kesuksesan dakwahnya. Nabi Muhammad saw. dibekali dengan wahyu yang mengandung pengetahuan dasar mengenai sifat Allah dan penjelasan mengenai dasar akhlak Islam. Wahyu saat itu sebagai bantahan secara umum tentang pandangan hidup masyarakat jahiliah yang berkembang di tengah-tengah mereka.

Baca juga: Kondisi Masyarakat Mekah Sebelum Islam Masuk

Orang pertama yang menyatakan keislamannya dari kalangan rumah tangganya sendiri, yaitu Khadijah (istrinya), Ali bin Abi Talib, dan Zaid bin Harisah, anak angkatnya. Selanjutnya, disusul oleh Abu Bakar as-Siddiq, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak dan Ummu Aiman, pengasuh beliau waktu kecil. Melalui Abu Bakar, pengikut beliau bertambah. Mereka adalah Abd Amar bin Auf (kemudian berganti nama dengan Abdur Rahman bin Auf), Abu Ubaidah bin Jarrah, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Mereka mendapat gelar as-Sabiqunal Awwalun, artinya orang-orang yang pertama masuk Islam.

Ketika umat Islam masih sedikit, Nabi Muhammad saw. melarang pengikutnya menyatakan keislamannya secara terbuka. Meskipun demikian, Abu Bakar terus berdakwah mengajak penduduk Mekah untuk masuk Islam. Ia berhasil mengislamkan beberapa tokoh, antara lain Abu Ubaidah bin al-Haris, Abu Salamah bin Abdul Asad, Arqam bin Abil Arqm, Usman bin Maz’un, Abdullah bin Maz’un bin Habib, Sa’id bi Yazid, dan istrinya Fatimah (saudara perempuan Umar bin Khattab), serta Asma’ dan Aisyah (keduanya putri Abu Bakar as-Siddiq). Bahkan, Arqam bin Abil Arqam menyediakan rumahnya untuk pembinaan umat oleh Nabi Muhammad saw. Dakwah secara sembunyi-sembunyi pun berlangsung di rumah tersebut.

Dakwah secara Terbuka

Setelah dakwah berjalan tiga tahun, Nabi Muhammad saw. berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam. Penduduk Mekah banyak yang sudah mengetahui dan mulai membicarakan agama baru yang dibawa Nabi Muhammad saw. dan sebagian yang lain menolak.

Dengan dasar itulah, Nabi Muhammad saw. mengubah strategi dakwah yang semula diam-diam dengan dakwah secara terang-terangan. Hal itu sebagaimana perintah Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an Surah asy-Syu’ara’/26: 214.

(٢١٤) وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.” (Q.S. asy-Syu’ara’/26: 214)
Berdasar ayat tersebut, Nabi Muhammad saw. mengajak kaum keluarganya, yaitu Bani Abdul Mutalib untuk memeluk Islam. Beliau mengatakan, “Saya tidak melihat seorang pun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya (Muhammad) bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian. Siapakah di antara kalian yang mendukung dalam hal ini? Mereka menolak, kecuali Ali.”

Meskipun di kalangan masyarakat Arab menolak ajakannya untuk memeluk Islam, Nabi Muhammad saw. tetap melanjutkan dakwahnya. Seiring dengan berjalannya waktu maka dalam waktu yang tidak terlalu jauh, Nabi Muhammad saw. menerima wahyu yang memerintahkan kepada beliau untuk melakukan dakwah secara terbuka dan terang-terangan kepad seluruh masyarakat. Allah Swt. Berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala sesuatu apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Q.S. al-Hijr/15: 94)

Sesudah ayat tersebut turun, mulailah Nabi Muhammad saw. melakukan dakwah ke segenap lapisan masyarakat dengan terang-terangan; baik golongan bangsawan maupun lapisan hamba sahaya. Begitu juga beliau berdakwah kepada kerabat dekat ataupun kerabat jauh, bahkan beliau melakukan dakwah kepada orang-orang yang tidak beliau kenal.

Dakwah terang-terangan itu membuat seorang tokoh Bani Gifar yang tinggal di Laut Merah menyatakan diri masuk Islam. Ia adalah Abu Zar al-Gifari. Atas perintah Nabi Muhammad saw., Abu Zar al-Gifari kemudian pulang untuk berdakwah di kampungnya. Sejak itulah banyak orang yang masuk Islam melalui Abu Zar. Melalui cara itu pula, Bani Daus juga masuk Islam. Orang pertama Bani Daus yang masuk Islam adalah Tufail bin Amr ad-Dausi, seorang penyair terpandang di kabilahnya. Setelah masuk Islam, dia kembali ke kaumnya untuk berdakwah. Dengan demikian, Islam sudah mulai tersebar ke luar Mekah.

Baca juga: Sejarah Dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah Sebelum dan Ketika Masa Kerasulan

Keberhasilan Nabi Muhammad saw. dalam berdakwah mendorong kaum kafir Quraisy menampakkan berbagai macam tantangan dan ancaman. Pada awalnya, orang kafir Quraisy merasa tenang dengan dakwah yang dilakukan Rasulullah saw. secara diam-diam karena mereka menyangka bahwa dakwah tersebut tidak akan berkelanjutan, tidak memiliki kekuatan, dan tidak akan dianut oleh orang banyak. Namun, setelah Rasulullah saw. mulai melakukan dakwah secara terang-terangan, mereka mulai sadar bahwa dakwah Rasulullah membuahkan hasil dan dianut oleh orang-orang Quraisy. Akhirnya, orang kafir Quraisy mulai menyatakan tantangan terhadap dakwah Rasulullah saw. dan agama Islam yang beliau bawa. Mereka berusaha dengan maksimal untuk menghalangi dakwah tersebut agar tidak meluas ke seluruh daerah Arab.

Di tengah meningkatnya ancaman dan rintangan dari kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya, Hamzah bin Abdul Mutalib dan Umar bin Khattab, dua orang kuat Quraisy, masuk Islam. Hal itu membuat kaum kafir Quraisy mengalami kesulitan untuk menghentikan dakwah beliau.

Baca juga: Pesatnya Perkembangan Islam di benua Asia

Suatu ketika, Nabi Muhammad saw. melakukan dakwah secara terbuka. Beliau naik ke Bukit Safa dan memanggil semua suku yang ada di sekitar Mekah. Untuk mengetahui apa yang akan disampaikan Muhammad, semua suku mengirimkan utusannya. Bahkan, Abu Lahab, paman beliau pun hadir. Nabi Muhammad saw. berseru, “Jika saya katakan kepada kamu bahwa di sebelah bukit ada pasukan kuda yang akan menyerangmu, apakah kalian percaya?” Mereka menjawab, “Kami semua percaya. Kami tidak ragu akan kebenaran perkataanmu sebab kamu orang yang jujur dan kami tidak pernah mendapati kamu berdusta.”

Nabi Muhammad saw. kemudian berseru, “Saya peringatkan sekali kamu akan siksa di hari Kiamat. Allah menyuruhku untuk mengajak kamu menyembah kepada-Nya, yaitu Tuhanku dan Tuhanmu juga, yang menciptakan alam semesta termasuk yang kamu sembah. Maka tinggalkanlah Latta, Uzza, Hubbal, dan berhala-berhala lain sesembahanmu.”

Mendengar seruan tersebut, Abu Lahab marah dan mencaci maki seraya berkata, “Hari ini kamu (Muhammad) celaka. Apakah hanya untuk itu kamu mengumpulkan kami?”

Nabi Muhammad saw. termenung sejenak memikirkan reaksi keras dari kaumnya yang menentang dakwahnya. Kemudian, turun wahyu yang menerangkan bahwa yang celaka bukanlah beliau, tetapi Abu Lahab sendiri. Allah Swt berfirman sebagai berikut.

Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yan bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”
(Q.S. al-Lahab/111: 1-5)

Baca Selanjutnya: Sejarah Dakwah Islam - Tantangan dan Kesulitan-Kesulitan Dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sejarah Dakwah Islam: Substansi dan Strategi Dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah

0 komentar:

Post a Comment

Bismillaah ..
Anda boleh meninggalkan komentar di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

Terima Kasih.