Saturday, June 1, 2013

Cinta itu Memikirkan yang Dicintai, bukan Hanya Kemarin dan Kini

Cinta itu memikirkan yang dicintai, bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti - Mari kita berbicara tentang masa depan, agar hari esok yang dijelang bukan suatu kesengsaraan. Ada hal yang jelas yang harus dipersiapkan. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan.

Bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah. Bila engkau perempuan, seharusnya tau bagaimana bertingkah. Kita bicara masa depan karena ini tidak semudah yang diperkirakan oleh para pemuda-pemuda yang lalai, juga tidak sesulit yang diceritakan perempuan-perempuan yang bercerai.

Setiap Muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggung jawab, yang menghargai kelebihan-kebaikannya, dan yang memaafkan kealpaan-kekurangannya.

Muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti, baik hati, tinggi iman, dan lurus amal?

Muslimah selalu menanti lelaki elok akhlak padan rasa, yang memiliki kelembutan dengan anaknya, dengan istrinya dia mesra. Muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka dan membimbingnya menuju surga Allah?

Dan sebaliknya ...
Lelaki mana yang tidak suka dengan wanita cerdik cendekia lagi berparas menawan, yang lisannya seanggun geraknya? Lelaki yang baik pasti menyukai wanita lemah lembut dan santun, pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian, tidak tamak pada harta dan selalu menjaga kehormatan.

Lelaki mana yang tidak memimpikan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan dan mengeluarkan kebaikannya, dirindukan bila ditinggal, dan menyenangkan bila berjumpa?

Namun sialnya, kita hidup di zaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini untuk memperhatikan fisik bukan isi, memperhatikan badan bukan iman. Kapitalisme menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai tujuan tertinggi. Hingga membuat lelaki sejati dalam pandangan Islam menjadi barang yang sulit. Hedonisme, anak kandung kapitalisme, sukses menjadikan lelaki yang hanya peduli nikmat sampai pada kulit.

Wajar bila kita melihat di mana-mana lelaki jadi miskin tanggung jawab dan fakir komitmen. Bagi lelaki yang tidak lulus ujian tanggung jawab dan komitmen, merekalah yang akhirnya masuk dalam jurusan pacaran.

Cinta disempitkan dalam arti pacaran, yang terbatas pada rayuan palsu dan gandengan tangan

Padahal, pendamping yang shaleh tiada pernah didapatkan dari proses pacaran, karena keshalehan dan kebathilan jelas bertentangan. Haq dan bathil tidak akan pernah bertemu, bagai fatamorgana yang dijanjikan kebahagiaan semu.

Bagaimana bisa lelaki yang sudah memahami pacaran itu perbuatan yang dilarang oleh Allah, memaksa dengan berbagai alasan agar engkau selalu berbagi dosa dengannya melawan Allah, lalu yang seperti ini bisa jadi panduan setelah menikah?

Coba Pikirkan Baik-baik!

Sebelum menikah saja sudah berani berbuat maksiat. Lalu, apa yang menghalanginya berbuat maksiat setelah menikah?
  • Jika sebelum halal saja sudah berani katakan sayang. Jangan heran bila setelah menikah ia berani katakan itu kepada wanita lain, toh sama-sama bermaksiat kepada Allah.
  • Jika sebelum akad saja ia sudah melabuhkan tangannya pada tubuhmu. Jangan heran bila setelah menikah ia mampu lakukan itu pada wanita lain, toh sama-sama dosa kepada Allah.
  • Yang tiada takut dosa saat sebelum menikah, jangan harap ia takut dosa setelah menikah..


Coba Sekali lagi Pikirkan Baik-baik!

Apa yang menghalangi lelaki atau wanita untuk berselingkuh dikemudian hari? Bila pengawasan pasangan yang menghalanginya berselingkuh, mudah sekali mencari jalan untuk tetap berselingkuh. Bila nilai-nilai adat serta hati nurani yang menghalanginya berselingkuh, nilai-nilai adat serta hati nurani bisa berubah dengan suara terbanyak.

Satu hal yang membuat lelaki atau wanita mustahil berselingkuh, yakni pengawasan Allah SWT. Allah selalu ada dan melihat semua perbuatan hamba-Nya. Kesadaran bahwa Allah selalu bersamanya dan dia pun selalu bersama Allah. Kesadaran bahwa Allah akan menghisab setiap amal yang dia buat dan dia tinggalkan. Kesadaran bahwa dia terhubung dengan Allah.

Sayangnya ini tiada kita temukan pada lelaki dan wanita yang berpacaran. Lelaki yang dengan berpacaran dia ridha laksana fatamorgana, saat berbuat dia berkhianat, dan saat berjanji dia ingkar. Lelaki yang tak berani menikahi ibarat calo kereta api, tak peduli urusan engkau sakit, yang penting dia sudah sikat.

Lelaki berpacarang jelas miskin tanggung jawab, karena pacaran memang tidak mensyaratkan tanggung jawab. Saat pacaran dia berikan seribu alasan untuk merenggut kehormatan dan engkau akan melihat dia sulit diajak bicara saat sudah engkau berikan apa yang dia inginkan.

Wajar saja bila saat sudah serumah, lelaki semacam ini lisannya penuh dengan dusta, karena saat pacaran dia sudah melatihnya. Tak heran, sungguh tak heran, saat pacaran ia berani khianati Tuhan, maka khianati pasangan sangat mudah baginya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Cinta itu Memikirkan yang Dicintai, bukan Hanya Kemarin dan Kini

0 komentar:

Post a Comment

Bismillaah ..
Anda boleh meninggalkan komentar di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

Terima Kasih.